SECTION I : DASAR-DASAR KEUNGGULAN STRATEGI
Sistem
informasi (SI) dipandang bukan sekedar sebagai pendukung bagi operasi
bisnis yang efisien dan pengambilan keputusan bisnis yang efektif.
Teknologi informasi dapat mengubah cara persaingan dalam bisnis. Oleh
karenanya SI memiliki peran strategis dalam menentukan strategi bersaing
untuk membentuk keunggulan kompetitif, mengurangi faktor-faktor yang
mereduksi keunggulan kompetitif, dan mencapai tujuan-tujuan strategis
lain perusahaan dalam lingkungan bisnis yang dinamis sekarang ini.
Perusahaan hanya akan bertahan sukses dalam jangka panjang
apabila berhasil membangun strategi untuk menghadapi 5 tekanan
persaingan (competitive forces) yaitu:
persaingan dengan kompetitor yang sudah ada dalam industri
ancaman masuknya pendatang barang ke dalam industri
ancaman produk pengganti
posisi tawar (bargaining power) konsumen
posisi tawar (bargaining power) pemasok
Strategi dasar untuk menghadapi tekanan persaingan tersebut adalah:
Strategi Cost Leadership, dengan cara:
a. Menjadi Produsen dengan biaya rendah
b. Membantu pemasok dan kosumen mengurangi biaya
c. Meningkatkan biaya (cost) yang dikeluarkan kompetitor
Strategi Differensiasi, dengan cara:
a. Mengembangkan cara men-diferensiasi produk perusahaan dari kompetitor
b. Dapat memfokuskan pada ceruk pasar (niche of market) atau segmen tertentu
Strategi Inovasi
Menemukan cara baru dalam berbisnis, dengan:
· Produk atau jasa yang unik
· Pasar yang unik
·
Perubahan radikal pada proses bisnis untuk mengubah struktur
fundamental industri, sebagai contoh adalah Amazon menggunakan jasa
sistem online secara penuh
Strategi Pertumbuhan, dengan cara:
a. Ekspansi kapasitas produksi
b. Ekspansi ke pasar global
c. Diversikasi produk atau jasa baru
Sebagai contoh adalah Wal-Mart menggunakan global satellite tracking untuk pemesanan barang
Strategi Aliansi
Membangun
ikatan dan aliansi dengan konsumen, pemasok, kompetitor, konsultan dan
perusahaan lain misalnya dengan merger, akuisisi, KSO (joint ventures),
perusahaan maya
Contoh: Wal-Mart memakai otomasi pengisian persediaan oleh pemasok secara otomatis
Penggunaan Teknologi Informasi dalam strategi dasar
Sumber: Introduction to Information System, O’brien/Marakas
Strategi Bersaing Lainnya
Strategi lain disamping strategi dasar yang dapat diterapkan adalah:
1.
Lock in customers and suppliers, mengunci konsumen dan pemasok
yang juga mengunci masuknya kompetitor. Hal ini dilakukan dengan cara
menciptakan hubungan baru yang sangat bernilai, yang akan mencegah
berpindah ke kompetitor. SI yang digunakan menimbulkan switching costs
jika berpindah ke kompetitor. Konsumen dan pemasok dibuat tergantung
pada SI yang iovatif.
Barriers to entry, TI yang memperbaiki operasi
dan meningkatkan inovasi menciptakan penghalang bagi kompetitor.
Sehingga kompetitor akan enggan untuk masuk ke pasar atau mengharuskan
investasi yang besar dalam TI untuk mampu bersaing.
Membangun bisnis dengan customer-focused
Perusahaan yang dapat membangun bisnis yang berfokus pada customer adalah bagaimana dia dapat :
– Mempertahankan agar customers loyal
– Dapat mengantsisipasi kebutuhan masa yang kan datang
– Mampu merespon kekhawatiran customer
– Menyediakan pelayanan yang berkualitas tinggi kepada customer
Perusahaan-perusahaan
yang mempunyai fokus pada customer value, mengakui bahwa kualitas
adalah segala-galanya bukan pada harga. Perusahaan yang secara konsisten
mampu menyediakan kualitas yang terbaik akan memberikan competitive
value bagi customernya.
Bagaimana perusahaan agar dapat menyediakan customer value :
• Mampu menelusuri preferensi dari pelanggan
• Mengikuti trend pasar
• Dapat menyediakan produk dan service kapan saja dan dimana saja;
• Mampun menyediakan pelayanan kepada customer sesuai dengan yang diinginkan
• Memanfaatkan Customer Relationship Management (CRM) systems untuk dapat focus kepada customer
Value Chain dan Strategi Information System
Salah
satu teori yang dikembangkan oleh Michael Porter adalah teori value
chain. Teori ini menggambarkan bahwa sebuah perusahaan adalah suatu
rangkaian bentuk aktivitas dasar yang mempunyai fungsi menambah value
bagi produk dan jasa yang dihasilkan. Akitivitas yang dilakukan oleh
perusahaan terdiri dari
– Primary processes, yaitu suatu aktivitas proses yang berhubungan langsung dengan proses manufaktur atau penyediaan produk.
–
Support processes, yaitu aktivitas proses yang dari waktu ke waktu
memberikan dukungan terhadap perusahaan dan secara tidak langsung
memberikan kontribusi kepada produk dan jasa yang dihasilkan.
Konsep value chain digambarkan sebagai berikut :
Dengan
mengaplikasikan value chain dalam maka perusahaan dapat ikut serta
dalam strategi kompetitif untuk memberikan nilai yang terbaik pada
produk atau jasa yang dihasilkan.
SECTION II : PENGGUNAAN TI UNTUK KEUNGGULAN STRATEGIS
Banyak
cara yang dilakukan oleh perusahaan dalam penggunaan teknologi
informasi. Banyak perusahaan memanfaatkan teknologi informasi sebagai
keunggulan kompeititif yang membedakan dengan perusahaan lainnya dalam
satu pasar.
Salah satu dari implementasi yang sangat penting dari
strategi kompetitif adalah bussiness process reenginerring (BPR), yaitu
suatu proses melakukan pemikiran ulang yang mendasar dan desain kembali
secara radikal dalam proses bisnis untuk menghasilkan perubahan yang
luar biasa pada cost, kecepatan, kualitas dan pelayanan. Apabila
implementasi dari BPR ini berhasil maka yang akan didapat adalah sesuatu
yang luar bisa pula, namun apabila sebaliknya maka akan mengandung
resiko kegagalan yang berakibat pada cost yang besar pula.
BPR berbeda dengan business improvement, perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel di atas.
Teknologi
informasi mempunyai peranan yang sangat besar dalam reenginerring
perusahaan. Kecepatan, kapabilitas proses informasi dan koneksivitas
dengan komputer dan teknologi internet dapat menjadi unsur untuk
meningkatkan efisisensi proses bisnis seperti halnya komunikasi dan
kolaborasi dari pihak-pihak yang bertanggungjawab dari operasionalisasi
perusahaan.
Menjadi perusahaan yang tangkas/gesit (agile)
Agility
dalam sebuah kinerja bisnis dapat diartikan sebagai keberhasilan
perusahaan dalam mengahadapi perubahan yang sangat cepat, dan pasar
global yang semakin terpisah pisah sesuai dengan tuntutan akan kualitas
tinggi, kinerja baik dan semakin personal sesuai keinginan konsumen
Agile
Company memperoleh penghasilan dengan strategi nemtang produk yang
lebar, daur hidup produk yang pendek, dan melakukan mass customization
dengan cara memproduksi barang dengan jenis sedikit, namn dalam jumlah
yang banyak.
Perusahaan amat bergantung dengan teknologi internet
untuk mengintegrasikan dan mengatur proses bisnis dalam menyediakan
kekuatan pengolahan data massal konsumen selayaknya data individu
Untuk mewujudkan Agile company,ada 4 strategy dasar yang harus dilaksanakan:
·
Konsumen harus mengetahui bahwa produk perusahaan adalah
solusi individu atas maalah yang dihadapi, sehingga harga produk dapat
ditetapkan dengan basis nilai (value) sebagai sebuah solusi,
dibandingkan dengan harga produksi semata
· Bekerjasama
dengan konsumen, suplier dan kompetitor agar dapat menyediakan produk di
pasar dengan segera dan biaya seefektif mungkin
· Mengatur
perusahaan sehingga dapat berkembang pesat dalam keadaanyang selalu
berubah dan diliputi ketidakpastian. Cara yang dilakukan dengan
menerapkan struktur organisasi fleksibel yang mengacu pada kesempatan di
pasar
· Melipatgandakan dampak dari sdm dan pengetahuan yang dimiliki
Menciptakan perusahaan virtual (VC-Virtual Company)
VC adalah perusahaan yang menggunakan teknologi informasi untuk menghubungkan manusia, organisasi, aset dan gagasan/pikiran.
VC
menciptakan jaringan informasi melaui jaringan internet, intranet dan
ekstranet. Juga menciptakan Interenterprise information systems dengan
pemasok, konsumen, subkontraktor dan supplier.
Strategi VC
A
company facing a new market opportunity might not have the time or
resources to develop the manufacturing and distribution infrastructures,
the competencies or the IT needed. By forming a virtual company with
an alliance with others it can quickly provide the solution needed
Starategi yang diterapkan:
· Berbagi infrastruktur dan resiko dengan persekutuan
· Menghubungkan kompetensi inti yang saling berhubungan
· Meningkatkan efisiensi waktu & kas melalui sharing
· Meningkatkan fasilitas dan cakupan pasar
· Memperoleh akses kepada pasar baru dan share market atau loyalitas konsumen
· Beralih dari sekedar menjual produk menjadi menjual solusi
Membangun Knowledge Creating Company
Untuk
memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan, perusahaan harus
menjadi Knowledge Creating Companies / learning organization.
Karakteristik :
Secara konsisten menciptakan new business knowledge
Menyebarkannya keseluruh bagian perusahaan
Mengaplikasikan pengetahuan tersebut kedalam produk atau jasa yang dihasilkan.
Ada 2 macam knowledge yang dikembangkan perusahaan:
Explicit knowledge: data, dokumen, dan seluruh hal yang tertulis atau yang tersimpan didalam komputer
Tacit knowledge: “how-to” knowledge yang ada dalam pikiran masing masing pekerja
Tacit
Knowledge seringkali menggambarkan informasi terpenting dari sebuah
organisasi, namun tidak tercatat secara tertulis tetapi berada didalam
akal/pikiran masing masing karyawan. Learning organization menciptakan
system yang memungkinkan Tacit knowledge dapat diakses seluruh karyawan.
Dari
diagram diatas, dijelaskan bahwa knowledge management yang sukses,
menciptakan teknik, teknologi, sistem dan reward/insentif yang mendorong
karyawan untuk membagikan pengetahuan yang dimiliki sehingga secara
akumulasi meningkatkan workplace and enterprise knowledge. Perusahaan
membangun Knowledge Management System (KMS) untuk mengelola
pembelajaran organisasi dan bisnis. Tujuan dari KMS: Menciptakan sistem
yang memfasilitasi karyawan untuk menciptakan, mengelola secara
sistematis dan membuat knowledge tersedia kapanpun dan dimanapun
dibutuhkan didalam organisasi. Dalam informasi ini termasuk proses,
prosedur, paten, referensi kerja, dan formula, best practise, peramalan
dan kepastian. KMS didesain untuk menyediakan imbal balik/feedback
secara cepat kepada karyawan, mendorong perubahan perilaku, dan
perubahan kinerja bisnis secara signifikan. Knowledge yang ada akan
diimplementasikan dalam proses bisnis, produk dan jasa yang dihasilkan.
Integrasi ini menjadikan perusahaan menjadi lebih innoovative dan agile
dalam menyediakan produk dan layanan pelanggan berkualitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar